|
Mei 31, 2008
|
|
Making Love Out of Nothing at All
|
| |
Making Love Out of Nothing at All Air Supply
I know just how to whisper, And I know just how to cry; I know just where to find the answers; And I know just how to lie. I know just how to fake it, And I know just how to scheme; I know just when to face the truth, And then I know just when to dream.
And I know just where to touch you, And I know just what to prove; I know when to pull you closer, And I know when to let you loose. And I know the night is fading, And I know that times gonna fly; And Im never gonna tell you everything Ive got to tell you, But I know Ive got to give it a try.
And I know the roads to riches, And I know the ways to fame; I know all the rules And then I know how to break em And I always know the name of the game.
But I dont know how to leave you, And Ill never let you fall; And I dont know how you do it, Making love out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all.
Every time I see you all the rays of the sun Are streaming through the waves in your hair; And every star in the sky is taking aim At your eyes like a spotlight, The beating of my heart is a drum, and its lost And its looking for a rhythm like you. You can take the darkness from the pit of the night And turn into a beacon burning endlessly bright. Ive got to follow it, cause everything I know, well its nothing till I give it to you.
I can make the run or stumble, I can make the final block; And I can make every tackle, at the sound of the whistle, I can make all the stadiums rock. I can make tonight forever, Or I can make it disappear by the dawn; And I can make you every promise that has ever been made, And I can make all your demons be gone.
But Im never gonna make it without you, Do you really want to see me crawl? And Im never gonna make it like you do, Making love out of nothing at all (making love)
Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love) Out of nothing at all (making love)
___ Making Love Out of Nathing at All The SaintloverLabel: Cuplikan, DreamLover |
posted by
nobita
@
7:35:00 PM
 |
|
|
|
|
|
Mei 17, 2008
|
|
Seperti Kemaren
|
| |
Seperti Kemaren Seperti Kemaren dan Kemaren
Hari ini aku melihat mu disana, diantara kerumunan temanmu
Seperti kemaren sangat ingin kutatap mata indah itu, tpi aku takut Ketahuan dan berakhir dengan ketidaknyamanan Tidak… aku tidak bermaksud menelanjangimu dengan tatapanku Aku hanya ingin menikmati surga dunia ini menikmati makhluk Tuhanku yang sempurna Aku hanya ingin mencuri energimu energi untukku dapat berjalan dengan tegar.
Seperti hari2 kemaren kau tetap anggun dengan dandananmu Putih pada jilbab dan bajumu mempertegas wajahmu imutmu jeans biru pudar dan kets mengantarkan pada kesederhanaan laku
Betapa ingin aku gapai betapa ingin aku kau disampingku betapa ingin aku kau menerangi langkahku betapa ingin aku Tapi... ku yakini hanya ingin menikmati senyum tipis pada pipimu tiap hari
Seperti kemaren kulihat aku adalah pahlawan kulihat aku mengesampingkan dunia ini kulihat engkau disana… hanya engkau
Seperti kemaren kutangkap kau menangkap mataku menatap mu kau berpaling sekejap kemudian sebelum menghilang di antara kerumunan.
Seperti kemaren aku memainkan untuk esok?
___ Mei 15, 2008Label: Love for Lover |
posted by
nobita
@
10:42:00 AM
 |
|
|
|
|
|
Mei 07, 2008
|
|
Tik Tok
|
| |
Tik Tok
The past never end the future never begin
Hari ini kukabarkan langkah pertama tuk menjejakkan tapak pada pekarangan hijaumu. Cukup lama, dan aku enggan menghitung hari sejak jiwa mulai merintih mengais ketenangan pada pikuk belaian.
Sangkalan, yang berujung pada pengakuan kelemahan diri. Berat…sangat berat, pada ilmu yang tak kumiliki. Dan aku harus mengawali untuk mengakhiri kepengecutan ini.
Tentram pada teduh tatapan fana. Tetap tak berani inginkan kesejukan itu, ijinkan aku sekedar menyelami semilir ketenangan belaimu pada jiwaku.
Rose is red Violet is blue Sugar is sweet So as you
Label: Love for Lover |
posted by
nobita
@
3:44:00 PM
 |
|
|
|
|
|
Mei 02, 2008
|
|
Permintaan Terakhir
|
| |
Permintaan Terakhir Pemurnian Guru dan Murid
Aku terpengkur diatas tanah merah yang masih basah itu, basah karena hari baru hujan, ditambah oleh air mata yang aku cucurkan di atas perkuburan yang terletak di tepi hutan, jauh dari kota itu. Perkataannya yang terakhir masih mendengung di telingaku, ucapan orang yang baru kukenal ini, tetapi sungguhpun demikian seseorang yang telah jadi perintis jalan bagiku.
Demikianlah asal mulanya aku mulai bergiat mencoba menggambar, membayangkan penghidupan diatas layar penghidupan dengan tak mengacuhkan caci pujian, tetapi terus berusaha tak putus-putusnya, hanya dengan seorang guru yang tinggi perasaan keseniannya, yang tak kenal lelah akan muridnya. Terkadang, kalau terlambat pensilku di atas kain, tak berdaya, tak berjiwa lagi. Akan terus, aku kenang kembali gambar “Guru Dan Murid” itu dan berkata aku kepada diriku, “Tidak aku tak hendakkan bayangkan hidup, tiruan hidup, tetapi aku berkendak hidup semata-mata.”
Ah, berapapun uang akan kubayar, untuk belajar kenal dengan perintis jalanku itu, jikalau ada padaku, tetapi…didalam hatiku aku takut akan menemuinya. Betapa dambanya aku kadang-kadang akan membawa “ciptaan-ciptaan” ku kepadanya, mempersembahkan kerja yang jauh dari sempurna itu, mengatakan “Ini hasil cucur peluhku, cacilah aku, katakanlah aku tak ada kepandaian, buanglah pekerjaanku kedalam bandar sampah,” tetapi hatiku takut, takut akan perkataan-perkataan itu, jika sekiranya nanti betul dilemparkannya ke mukaku.
Tak dapat tiada aku akan patah, … , tak dapat akan bangkit lagi, sebab terasa olehku, aku bergantung kepada guruku seperti seseorang bergantung di akar yang tidak kelihatan pangkalnya, sedangkan dibawahnya lembah yang dalam.
Oleh karena itu, aku jauhkan diriku padanya, dan dengan tumpuan batin gambar yang telah terguris, tak dapat dihapus dari kalbuku itu, aku akan capai tingkat yang tinggi dalam dunia kesenian. Dan ketika aku mesti bercerai dangan “Guru”ku, karena diundang orang ke luar negri, coraknya masih gilang-cemerlang, biarpun tak gemerlapan seperti dahulu lagi.
Ketika aku kembali pulang, tiga tahun kemudian, tak ada kedengaran namanya lagi. Aku tanyakan ke sana-sini, seorang pun tak tahu. Hingga pada suatu hari, ketika aku duduk di serambi muka rumahku, lalu seorang berjual gambar. Ia berhenti di muka rumahku, melepaskan lelah, menghapus peluhnya, dan karena aku senantiasa memperhatikan buah seni yang tersembunyi, aku hampiri orang itu. Seorang pembeli sedang menawar sebuah gambar yang aku kenal, yang telah jadi teladan bagiku, yaitu gambar “Guru Dan Murid.”
Kalau sekiranya aku tak kenal betul akan ciptaan “guru”ku, niscaya aku akan terperdaya oleh tiruan itu. Sipembeli tadi menawar satu rupiah, sedangkan si penjual meminta serupiah setengah.
Mendengar harga yang disebut-sebut itu, mendidih darahku, bukan buatan marahku.
“Tunggu dulu,“ aku berseru, ”Tahukah Tuan-tuan, bahwa gambar ini sepuluh tahun yang lampau harganya seribu rupiah, dan sekarang Tuan-tuan berani menjual atau membeli serupiah setengah?”
“Tetapi gambar ini kemarin baru siap.” Jawab tukang jual itu.
Ketika itu jelas padaku, bahwa catnya masih baru, hilanglah marahku, hanya sekarang berganti dengan perasaan benci yang tidak terhingga, benci terhadap orang yang meniru ini yang menjual jiwa dan sukma seorang ahli seni yang besar. Dan ketika kulihat gambar-gambar lain itu pun pernah kulihat dahulu, dan sesudah kuperhatikan seketika, nyatalah padaku, bahwa ini barang tiruan semata-mata.
“Bang!” kataku kepada orang penjual itu, “Kalau Abang bawa aku ke tempat orang yang membuat ini, aku beri Abang nanti persen lima rupiah.” Segera orang itu mau dan kami poun berangkatlah menuju sebuah kampung tak jauh dari kota. Tak lain maksudku, hanyalah hendak mengata-ngatai si peniru si peniru yang tak berperasaan itu.
Di tengah jalan aku perhatikan terus gambar itu dan makin lama kulihat, makin terharu pikiranku , karena barang tiruan itu tak dapat disangkal, diperbuat oleh tangan yang cakap dan tumbuhlah syakwasangka dalam hatiku yang membuat hatiku berdebar.
Setiba kami di sebuah kampung yang belum penah aku jejak, dibawa aku oleh sipenjual tadi di sebuah pondok bambu, rendah dan teratur tampaknya.
“Silakan Tuan,” katanya dan berseru dari luar ke dalam “Tuan, ini ada tamu!”
Dari dalam rumah itu kedengar suara yang lemah, tak tegak lagi. “Suruhlah masuk Din!”
Aku masuk dan sejurus kemudian aku tertegun, hatiku berdebar, tak salah lagi, yang duduk di atas balai-balai ini ialah guruku, telah agak tua tampaknya, kupiahnya berkerumuk di atas kepalanya dan dari sana-sini tersembur dari dalam tutupnya kepalanya itu rambut putih. Tak tahan hatiku lagi, aku meniarap di bawah lututnya, tak sadarkan diri. Ketika aku angkat kepalaku, heran aku melihat wajahnya yang tenang itu, sedikit pun tak terlihat keheranan di mukanya yang pucat itu.
“Kaulah yang aku nanti, Nak.” Katanya, “Harapan inilah yang memberi aku tenaga untuk hidup terus.”
“Aku yakin,” sambungnya lagi, “Gambarku yang satu ini akan memutuskan penderuitaanku. Lihatlah kita sekarang, tak ubahnya seperti gambarku dahulu. Aku kenal akan kau, Anakku. Aku turuti engkau semenjak cahayamu mulai terang bersinar dan aku mengerti, engkaulah yang akan menggantikan kedudukanku dalam kesenian Indonesia yang sepi ini. Sekarang aku bersukur kepada Yang Maha Esa.” Oleh : Usmar Ismail Dikutip dari : Gema Tanah Air Indonesia Balai Pustaka, Jakarta 1982 Label: Cuplikan |
posted by
nobita
@
7:18:00 PM
 |
|
|
|
|
|
|